VIRAL PETISI, WR III UB GAGAS BUKU PEDOMAN

Petisi “Ganti WR III Unibraw Malang u/ Selamatkan Mahasiswa & IKA Unibraw Malang dari Perpecahan” yang diunggah 19 Desember 2016 pada laman www.change.org menjadi viral. Jumlah yang menandatangani terus meningkat hingga kini pukul 21.00 26 Desember 2016 mencapai 1.801 pendukung. Pada 23 Desember 2016 Wakil Rektor III Prof. Dr. Ir. Arief Prajitno memberikan tanggapan terhadap petisi online dalam portal www.prasetya.ub.ac.id.
Wakil rektor membantah telah memecah belah civitas akademika. “Tidak benar apabila kebijakannya selaku Wakil Rektor III UB dimaksudkan untuk memecah belah antar sivitas akademika. Terlebih dengan para alumni yang selama ini telah ikut andil dalam membina kegiatan kemahasiswaan,” dalam rilisnya melalui media prasetya.ub.ac.id.
Disampaikan pula bahwa jajaran kemahasiswaan melakukan penyempurnaan sistem dan mekanisme pengelolaan UKM yang dituangkan dalam buku pedoman kegiatan. Jajaran kemahasiswaan menurutnya selalu berkomitmen melakukan perbaikan layanan terhadap UKM maupun Kemahasiswaan dan siap menerima masukan guna peningkatan prestasi di bidang kemahasiswaan.
Sikap Wakil Rektor III yang dilansir dalam portal Humas UB dirasa belum memuaskan untuk menjawab petisi. “Kalau hal-hal yang ada dipetisi belum menjawab secara memuaskan, seperti tindakan represi belum terjawab,” ujar seorang mahasiswa UKM Brawijaya.
Sebelumnya, polemik ini mengundang media massa luar seperti surya dan malang voice. Selain itu terdapat aliansi SUAR (Solidaritas UKM Brawijaya) sebagai bentuk solidaritas mahasiswa terhadap UKM. Dimana aliansi ini telah tersiarkan sejak 22 Desember 2016 dengan target capaian yang salah satunya mengenai permintaan buku panduan kegiatan mahasiswa sesuai dengan kepentingan UKM.
Mengacu pada tanggapan rektor yang memiliki kesamaan dengan SUAR tentang buku pedoman, hal ini menimbulkan kejanggalan pada publik. Benar saja, saat dikonfirmasi dari seorang mahasiswa UKM menyatakan bahwa pencetusan buku pedoman memang sejak 7 Oktober 2016 ketika audiensi terakhir di lantai 6 rektorat akan tetapi baru direalisasikan setelah viralnya petisi.
“Saat itu langsung bilang sepakat pembentukan buku pedoman. Kita follow up terus dari lantai 3 dan 6, sementara sulit bertemu Pak WR terutama anak UKM jadi kita ke bagian staf ahli akan tetapi jawabannya selalu nunggu mandat dari Pak WR. Akhirnya mau gak mau kita ke EM dan DPM agar mereka menanyakan. Hasilnya hanya janji minggu besok SK akan turun. Waktu hebohnya petisi hari senin, tiba-tiba kita dapat undangan besoknya untuk rapat ke rektorat masalah pembentukan buku pedoman,” ungkap salah seorang anggota Aliansi yang tidak ingin disebut namanya.
Terdapat beberapa UKM yang turut tergabung dalam SUAR sehingga memudahkan pembuatan buku pedoman dengan mengumpulkan kronologi permasalahan tiap UKM. Kendati tim pembuatan buku pedoman sudah dibentuk oleh pihak rektorat, SUAR tetap melancarkan aksinya agar buku pedoman segera terealisasi.
“Beberapa permasalahan UKM secara umum biasanya dana pengajuan proposal dipotong tanpa kejelasan. Kedua, proposal terkadang tidak disetujui dengan alasan yang kurang jelas dan kebanyakan dana turun beberapa bulan setelah LPJ kegiatan,” tandas humas SUAR menyampaikan permasalahan UKM.
Buku pedoman akan menjelaskan sistem dan mekanisme pengelolaan UKM/Kemahasiswaan sehingga diterbitkannya buku ini ikut mengikis permasalahan yang terjadi. Dalam pembuatannya tidak hanya pihak Wakil Rektor III dan UKM akan tetapi juga adanya keterlibatan EM dan DPM.
Menanggapi hal tersebut, Presiden EM terpilih Akhmad Khoirudin menyatakan “Ya kan saya juga baru dan belum berpengalaman di ranah universitas sehingga ini pertama kalinya. Saya masih berproses dan paling tidak seminggu kedepan mulai ditingkatkan prioritasnya apalagi minggu tenang sangat efektif,” terang Udin esoknya setelah pelantikan EM DPM 2017, 22 Desember lalu.
Memang desakan terus diluncurkan dari berbagai pihak kepada birokrat pemegang kendali mahasiswa tetapi tanggung jawab adalah milik bersama. “Kalau konteks ini saya tidak melihat menjadi pertanggungjawaban siapa, namun lebih kepada pergerakan bersama,” tegas Ahmad Khoiruddin. (ifa/red.)

mafaterna

Lembaga Pers Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *