“SKS tidak memenuhi persyaratan” bukan alasan tidak lulus tepat waktu

     Mahasiswa tentunya tidak asing lagi dengan istilah PKL atau Praktek Kerja Lapang yang merupakan salah satu bentuk nyata dalam pengaplikasian dari teori di bangku perkuliahan, dimana kegiatan ini adalah suatu bentuk penguasaan melalui kegiatan kerja secara langsung di lapangan. Melalui PKL, mahasiswa akan mendapatkan pengalaman serta mampunyai waktu dimana dapat mempelajari permasalahan pekerjaan. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya sebagai salah satu perguruan tinggi mewajibkan mahasiswanya untuk turut serta mengikuti kegiatan PKL (Praktek Kerja Lapang) dimana kegiatan tersebut  dilaksanakan pada tahun ke-4 perkuliahan. Waktu pelaksanaannya dibagi menjadi dua periode, gelombang satu dan gelombang dua.  Gelombang satu dilaksanakan pada liburan semester enam, sedangkan gelombang dua di liburan semester 7. Pelaksanaan PKL di fakultas yang biasa disebut fakultas lalapan dalam prosesnya terdapat beberapa syarat  diantaranya telah menempuh 110 sks, maksimal nilai “D” yang berjumlah 2 mata kuliah, tidak terdapat nilai “E”, dll.

     Mahasiswa fakultas peternakan khususnya 2015, dengan adanya kabar tentang pelaksanaan PKL ini  mulai “heboh” dan cukup menyita perhatian, dimulai dari sosialisasi PKL, pencarian anggota kelompok, pemilihan lokasi hingga pemilihan dosen pembimbing. Terlepas dari hal tersebut, ada yang keresahan lain yang menjadi perhatian bagi mahasiswa fakultas peternakan yaitu persyaratan yan telah ditetapkan yaitu menyangkut SKS yang telah ditempuh. Bagi mahasiswa yang telah memenuhi syarat maka dapat mengikuti PKL pada gelombang dua. Selanjutnya bagaimana dengan mahasiswa yang persyaratannya belum terpenuhi, diantaranya adalah SKS yang kurang? Apa yang menjadi alasan fakultas ini menetapkan jumlah minimal SKS?

     Kamis, 28 Desember 2017, perwakilan mahasiswa 2015 yaitu Dewan Perwakilan Mahasiswa mengajak mahasiswa yang memiliki permasalahan tersebut dengan melaksanakan audiensi terkait hal ini dan harapannya dapat menjawab semua pertanyaan yang akan di ajukan. Audiensi ini mendatangkan auditor Ibu Dr. Ir, Sri Minarti. MP dan hasilnya adalah penjelaskan terkait 110 SKS sebagai persyaratan umum berpatokan pada surat keputusan dekan yaitu mencukupkan pembekalan ilmu yang nantinya akan mendukung ilmu di lapang. Penentan SKS diharapkan dapat menjadi evaluasi program studi bagi mahasiswa sehingga dapat terus memperbaiki kekurangan yang ada pada pribadi masing – masing. Selanjutnya setelah melalui pertimbangan, hasil lain yang didapatkan adalah berupa penurunan jumlah sks maksimum menjadi sejumlah 107 sks yang harapannya memaksimalkan pemberangkatan PKL pada gelombang pertama. Bagi mahasiswa dengan sks kurang dari 107 akan mengikuti PKL pada gelombang dua.

     Keputusan yang telah ditetapkan menjadi angina segar bagi mahasiswa dengan jumlah SKS yang lulus lebih dari 107. Ha tersebut tidak begitu saja melegakan bagi mahasiswa dengan SKS yang kurang dari 107, dimana ada anggapan bahwa dikhawatirkan dengan keberangkatan PKL pada gelombang 2 .Kekhawatiran apakah hal tersebut akan berpengaruh terhadap waktu kelulusan mereka? Dapatkah mereka lulus tepat waktu?

     Ibu Dr. Ir, Sri Minarti. MP dengan jelas menjawab bahwa waktu keberangkatan PKL tidak berpengaruh terhadap waktu kelulusan. Pelaksanaan PKL di gelombang dua akan tetap dapat lulus tepat waktu dan hal tersebut bergantung pada semangat dan kerja keras mahasiswa itu sendiri, selain itu strategi merupakan kata kunci dibalik kata “lulus tepat waktu”.  Mahasiswa dapat menyasati dengan melakukan persiapan yang lain seperti persiapan proposal, perbaikan nilai, penelitian maupun mulai pengerjaan skripsi, dengan demikian ketika periode pelaksanaan PKL gelombang satu telah usai, mahasiswa dapat melaksanakan PKL namun sudah melaksanakan penelitian dan setelah selesai ujian PKL dapat langsung ujian skripsi. Seperti yang diucapkan oleh  Ibu Dr. Ir, Sri Minarti. MP  bahwa (Diah, Omo/red)

     “Jangan berkecil hati, kamu dapat menyusun strategi dengan pengerjaan proposal, penelitian dan lain-lain, tujuannya sama hanya urutannya yang berbeda”

 

“Tidak ada hal yang tidak mungkin terjadi dengan usaha dan keyakinan”

– Anonim-

mafaterna

Lembaga Pers Mahasiswa MAFATERNA Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *