ODA

Cerpen karya Kiky Z.H

           Benarkah dunia tanpa aturan merupakan impian semua orang?

Semalam aku bermimpi, terlahir di dunia keji yang kosong. Bahkan kewarasan dianggap hal yang tidak normal adanya. Tiada satupun insan yang masih bisa berdiri tegak diantara labirin keputusasaan. Mereka yang berpangkat tinggi bersembunyi dibalik jeruji besi dan tumpukan batu permata menyisakan garis kehidupan kasta. Dunia tanpa aturan, bukannya tiada tapi sudah tak berlaku. Buah dari apa yang ditanam manusia.

            Apa yang kita pijak sudah menua, merintih dan menangis kesakitan. Segala yang tercipta diambang kepunahan, yang hidup tak selamanya bernyawa, yang mati menyisakan nama. Bahkan yang tak bernyawa tiada kekal kodratnya.  Sejak pertama kali membuka mata, kita sudah dihadapkan kenyataan bahwa suatu saat akan menutupnya kembali. Dunia pasti berakhir, itulah kenyataannya. Hanya saja kita tak tahu kapan, mungkin detik ini, bisa juga nanti, atau mungkin besok. Tidak melihat apa-apa, tidak merasakan apa-apa, hidup hanya sementara dengan tidur yang panjang.

            Setiap saat alam mengalami perubahan, meremajakan diri untuk mencapai keseimbangan, sama dengan apa yang ada di dalamnya yang kita kenal sebagai seleksi alam. Kala itu, seluruh umat manusia dihadapkan dengan maut yang menyapu bersih  1/3 permukaan bumi.  Umat manusia diambang kepunahan. Peristiwa paling menyeramkan dalam sejarah umat manusia. Ketika isu bukan lagi sekedar omong kosong. Tidak dapat dipungkiri bahwa ratusan ramalan yang meleset hanya isapan jempol bagi mereka. Ramalan dari masa lalu tanpa dasar penalaran yang logis tak lebih dari mitos belaka. Fakta bahwa segalanya akan terjadi pada waktunya, bukankah manusia itu terbatas?.

            2 tahun lalu, tepatnya tanggal 1 April, hari Selasa pada pukul 09.35 muncul sebuah berita besar yang menggemparkan seluruh jagad raya. Sebuah lembaga yang bertanggung jawab atas program penelitian luar angkasa menyatakan sebuah peringatan berupa pernyataan kiamat. Sebuah asteroid raksasa dengan diameter sekitar 300 meter diprediksi akan menghantam bumi dalam waktu dekat dan melepaskan energi bom atom 1000 kali lebih besar dari bom Hiroshima yang akan menghancurkan sebagian besar permukaan bumi.

            Bukan hanya kali ini, berita semacam ini sudah tidak asing di telinga masyarakat pada tahun-tahun sebelumnya, mulai dari isu planet lain yang akan menghantam bumi, badai matahari yang mematikan serta bencana-bencana besar lainnya sehingga memicu kepanikan luar biasa di seluruh penjuru bumi.

            Tidak dapat dipungkiri bahwa kali ini masyarakat menganggap lembaga antariksa sebagai penyebar hoax, namun tidak sedikit juga yang percaya bahwa sedang dihadapkan kematian karena tidak memiliki pilihan lain.

            “Dimana..” mataku terbuka pelan.

            Warna dinding tertutup tirai hijau mengelilingi tubuhku yang tengah terbaring. Kejadian itu mulai terngiang di kepala bagai slow motion yang terus berulang. Dentuman keras, gempa bumi, bangunan runtuh, teriakan.

            “Aaaarrgghh..” ku cubit lengan sekeras mungkin untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi. Sulit dipercaya bahwa aku masih bisa bernafas. Setiap detik serpihan ingatan tersusun membentuk alur mundur sebelum kesadaranku menghilang.

            Hamparan aspal dengan puing-puing bangunan menjulang ke langit, ratusan manusia berlalu lalang menapakkan kaki di jalan yang sama. Matahari yang menyapa dari ufuk timur hingga melambaikan tangan di ufuk barat.

            Ingatanku mulai tersamar. Seorang lelaki, aku berjalan bersamanya ketika matahari berada di atas kepala. Menyusuri tiap petak bangunan pencakar langit menuju ke suatu tempat. Kaki terhenti ketika alarm kota mengaum di tengah keramaian, suara yang memekakkan telinga, sesuatu yang besar akan segera terjadi. Langkah kaki berhamburan keluar gedung, kemacetan diiringi suara klakson yang menggema di tiap sudut jalan.

            “Mungkinkah?” mataku terbelalak dengan mulut menganga.

            Aku masih mematung, jangankan bergerak, mengangkat kaki pun tak sanggup. Apakah sudah terlambat? Gumamku dalam hati.

             Seseorang menarik lenganku, menyeretku berlari menunjuk pembangunan kontruksi gorong-gorong yang hampir selesai. Tanpa basa-basi ia menarikku turun dan berlindung di balik beton melingkar yang belum beroperasi, menyeretku dalam dekapan eratnya tanpa berkata-kata. Jantungku berdegup kencang dalam lantunan sebait doa untuk keselamatan. Air mataku tertahan dalam ketakutan, keringat dingin membasahi telapak tangan sementara langkah kaki dan teriakan bersahutan di balik permukaan.

            Bumi mulai bergetar, tanah disekitar beton mulai berjatuhan menyisakan debu yang menyesakkan. Detik-detik selanjutnya gempa bumi hebat mengguncang kota. Kueratkan genggaman sesaat sebelum tubuhku terpelanting berulang kali dalam dekapan.

            “Oda, bertahanlah!” bisiknya mengernyit kesakitan..

            Beberapa bagian tubuhnya membentur sisi beton berkali-kali, aku meringkup dalam dekapan sementara tangannya melindungi kepala dan punggungku.

            Tanah di sekitar beton runtuh menutup satu-satunya jalan masuknya udara bak mengubur kami hidup-hidup. Gempa terus berlanjut, kesadaranku mulai menurun. Sekuat apapun ku tarik nafas terasa sangat menyesakkan. Otot-otot di balik kulit terasa melemah, melepaskan genggaman dengan sendirinya hingga diriku terpental dan kepalaku membentur sisi lain beton beberapa detik sebelum kesadaranku menghilang.

            Disinilah aku sekarang, balutan kasa melingkari kepala, lengan kurus dengan jarum menancap mengalirkan sejumlah cairan dan selang oksigen melingkar melewati telinga. Ya, dapat dipastikan aku sedang dirawat di rumah sakit. Sudah berapa lama? Siapa yang membawaku kesini? Jawaban tidak akan datang dengan sendirinya jika aku hanya duduk sambil berpangku tangan.

           “Srraakk…” seseorang membuka tirai.

           “Selamat pagi. Pasien dengan kode ATP235001, scan on .” sebuah robodoc menggelinding kearahku. Segaris cahaya horizontal melewati ujung kepala hingga ke ujung kaki selama beberapa detik kemudian beralih ke pasien lain. Rekaman hasil pengecekan terpampang pada monitor dadanya dan terhubung langsung dengan data pusat rumah sakit.

            Ujung mata ini menelusuri ruang kecil tempatku terlelap. Sebuah kotak rekaman genggam yang tersingkap di balik beberapa lembar dokumen di atas meja menarik perhatianku. Ku ambil langkah pertamaku menyusuri tempat ini dengan infus yang masih tertancap.

            “Permisi, ini di rumah sakit mana ya?” tanyaku pada salah seorang perawat yang lewat.

           “Maaf sebelumnya, atas nama siapa ya?” tanyanya balik.

           “Olla Diandra” jawabku.

           Beberapa saat kemudian muncul barisan data dari sebuah kotak kecil semi transparan dalam jam tangan yang ia kenakan ketika mengetik namaku.

          “Pasien dengan kode ATP235001 atas nama Olla Diandra, anda mengalami koma dan gegar otak ringan. Anda merupakan salah satu korban selamat dari bencana jatuhnya asteroid Apophis 6 bulan yang lalu. Sehingga seluruh biaya alokasi, pengobatan dan tempat tinggal ditanggung lingkar negara” jelasnya sambil memandangi proyektor kecil di arlojinya.

          Otakku masih berusaha mencerna kata-katanya barusan.

          “Olla Diandra, selamat anda telah melewati masa koma dan selamat datang di pesawat antariksa OV-002, mari saya antar ke tempat tinggal anda sekarang” lanjutnya sembari mengulurkan tangan.

          “Tunggu sebentar, bagaimana keadaan bumi? Bagaimana keadaan kota? Bagaimana keadaan laki-laki itu? Bagaimana dengan keluargaku?” tanyaku penuh kepanikan mendengar bahwa kaki sudah tak menapak lagi di planet kehidupan.

          “Jangan khawatir. Semua data yang ingin anda ketahui dapat diakses melalui media yang telah disediakan di setiap tempat tinggal” ia menepuk kepalaku.

          “Mari saya antar” lanjutnya.

          Ruangan dengan luas tak lebih dari 10m2 menjadi tempatku bernaung untuk saat ini. Pandanganku mengarah pada notebook di ujung kasur. Sederet informasi terpampang ketika aku membuka aplikasi khusus search system yang menampung seluruh informasi mengenai bencana terbesar dalam sejarah umat manusia. Jemari menari di atas keyboard menulis namaku, Olla Diandra.

          Rata dengan tanah, istilah yang pantas untuk kota tempatku tinggal. Sekitar 9% penduduk asli selamat termasuk aku. Sosoknya dalam sebuah video evakuasi berdurasi kurang lebih 2 jam menarik perhatianku. Tidak terlalu jelas, namun aku tau pasti bahwa lokasi itu tempatku berlindung dengannya. Kutarik nafas menggerakkan jemari mengetik namanya, Mahardika Tio Isnawan.

          Tubuhku membeku seketika.

          Sebuah riwayat tertulis ia telah pergi 2 bulan yang lalu. Tunggu dulu, mataku terbelalak. Ini artinya dia selamat dari bencana itu, lalu mengapa? Air mataku tak terbendung.

          Sejenak ku teringat kotak rekaman kecil di meja rumah sakit yang masih dalam genggaman. Ku tekan tombol on sembari menarik nafas panjang untuk yang kedua kali.

          “Selamat… Selamat… Selamat pagi putri tidur Oda, bagaimana keadaanmu? Ketika kamu membuka mata tak menemukanku menunggu di sampingmu, artinya mungkin aku telah menunggumu di tempat yang jauh lebih indah saat ini. Sesungguhnya aku sangat berharap hidup di negeri dongeng dan bisa menjadi seorang pangeran yang membuatmu tersadar berkat ciumanku. Maaf aku tidak sempat melihatmu terbangun. Jangan tanya kenapa, kamu tidak perlu tau, yang perlu kamu tahu aku sangat bersyukur kamu selamat. Tiada rasa senang yang dapat melebihi apapun selain melihatmu tersenyum kembali. Lakukan apa yang ingin kau lakukan dan berjanjilah padaku kau akan menemukan kebahagiaanmu disana. Jujur aku sangat tidak menginginkan meninggalkanmu sendiri, tapi manusia itu terbatas. Waktu kita terbatas. Ssrrrkk. Ssrrrkkk.” Suaranya menghilang. Antara kotak rekamannya yang rusak atau dia yang telah selesai berbicara.

          Kutarik penaku dalam linangan air mata.

          Waktu itu hanya ilusi.

          Waktu ada bagi yang hidup.

          Terimakasih telah melampaui batas waktu.

          Karena dalam dirikulah hatimu hidup.

mafaterna

Lembaga Pers Mahasiswa MAFATERNA Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *